Is your social media toxic? #Beropini Eps 1
“Lepaskan dirimu, bersihkan tubuhmu”
“Dari racun yang
mengalir di dalam daraahmu”
“Lepaskan dirimu,
bersihkan lingkupmu”
“Dari racun yang bersuara
tentang hidupmu”
Halo teman-teman! Apa
kabar? Aku harap kamu baik-baik disana ya, kalaupun sebaliknya semoga dikuatkan.
Bisa kok lewatin satu-per satu.
Tulisan ini
berjudul #Beropini Eps 1 karena semua yang aku tulis merupakan pendapat pribadi
dan tidak mewakilkan suatu golongan tertentu. Apa yang aku tulis adalah
tanggungjawab sendiri.
Kali ini aku aku
bahas tentang social media mana sih yang paling toxic? Pasti deh
kebanyakan jawab “Ya Instagram lah, orang-orang disana tuh pada pencitraan
semua. Bikin inse doang.” Atau “Nggak sih, menuru gue justru twitter
loh. Dikit-dikit spill aib orang terus bikin thread.” Atau “Eh menurut
gue justru tiktok, orang kaya merendah untuk meroket gitu. Sok-sok kentang padahal
mah clear skin. Caper doang.”
Sebelum nentuin
mana yang meracuni hal buruk ke dalam diri, baiknya baca dulu nih data dari Hootsuit.
Hootsuite (We are Social) secara berkala menyajikan data serta tren yang
dibutuhkan dalam memahami internet, media sosial juga perilaku e-commerce di
setiap tahunnya. Umumnya, Hootuite menerbitkan data dan tren tentang internet
dan media sosial pada bulan kedua setiap tahunnya. Seperti pada tahun 2020 ini,
Hootsuite mengeluarkan data dan tren tentang internet serta media sosial pada
bulan Februari.
Nah, dari pemaparan
diatas ternyata pengguna facebook tetap jadi top social media yang
paling sering digunakan di dunia sebanyak 2,449 juta jiwa. Sedangkan urutan
kedua yaitu youtube sebesar 2,000 juta jiwa. Kalo di Indonesia sama nggak ya?
Dengan asumsi, total
populasi (jumlah penduduk) yaitu 272,1 juta. Persentase pengguna internet yang
menggunakan setiap platform [berbasis survei] yaitu top social media di Indonesia
justru youtube sebesar 88% kemudian disusul oleh whatsapp sebesar 84%. Ah ternyata
Instagram atau twitter mendapat ranking ke 4 dan 5 ya. Sedangkan waktu yang
mereka habiskan untuk berselancar di internet yaitu rata-rata setiap hari waktu
menggunakan internet melalui perangkat apa pun: 7 jam, 59 menit sedangkan rata-rata
setiap hari waktu menggunakan media sosial melalui perangkat apa pun: 3 jam, 26
menit.
Tapi umur berapa
sih pengguna terbanyak social media di Indo? Menurut, APJII (Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengungkap bahwa pengguna internet
terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, pengguna terbanyak
kedua berada pada umur 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun
pun juga menggunakan internet, bahkan mencapai 25,2 persen dari keseluruh
sampel yang berada pada umur tersebut.
Jadi sekarang kita
udah punya gambaran nih keadaan di masyarakat tentang behaviour mereka di
internet. Terus, kenapa beberapa social media itu dianggap toxic ya? What’s
the meaning of toxic? Toxic is containing or being poisonous material
especially when capable of causing death or serious debilitation.
Rada ngeri juga
sih capable of causing death. Death dalam pikiran aku saat pertama
kali baca meaningnya bukan death yang kita nggak bisa nafas. Mati karena
nggak bisa ngerasain nikmat atau sukarnya hidup. Kaya hampa aja gitu. Seneng enggak,
sedih enggak.
Menurut aku justru orang yang sedih atau pun senang artinya perasaan mereka masih hidup, mereka bisa merespon apa yang ada di sekitar. Dia tau mana yang nggak baik dan buruk buat dirinya sendiri. Sedangkan perasaan kosong dan hampa itu salah satu pertanda matinya perasaan. Kita tidak bisa mengetahui kemauan diri. Tidak bisa menangkap hal-hal yang terjadi. Aku pengguna aktif di social media walaupun nggak semua contohnya facebook. Makanya aku nggak ngerti lingkungan facebook itu kaya gimana. Pernah di masa kaya membanggakan suatu social media padahal lama-kelamaan sama aja. Semua tergantung apa yang kita follow. Sering ketemu kalimat “Haha, warga twitter mana tau.” Atau “Warga instagram ngga boleh tau nih, bahaya.” Bisa jadi “Alay banget sih warga tiktok.” Sedangkan menurut aku sendiri, tiap social media punya bobroknya masing-masing. Pernah dibilang social media ini mah kerjaanya nyolong konten sebelah. Besoknya? Sama juga ngeshare dari lapak sebelah. Ada yang pernah ngetwit gini dan aku setuju, “sibuk ngelabelin sosmed a b c toxic dll, coba deh liat dulu following lo sendiri. the platform itself aren't toxic or harmful, but the users. also it depends on who you follow here.”
Aku sendiri lagi belajar bahwa apa yang aku liat adalah tanggungjawab aku sendiri. Aku nggak merasa Instagram aku toxic. Kenapa? Aku jarang liat story orang lain tapi aku sering bikin story. Aku tipe orang yang kalo aku nggak pengen tau ya aku nggak cari tau daripada bikin sakit hati sendiri. Kalo aku nggak suka sesuatu, aku akan mute atau block orang tersebut. Apakah aku termasuk orang toxic? Ya I really don’t care what people think of me, sih. Pernah juga di masa semua-muanya aku komentarin. Nggak setuju A langsung aku takis. Setuju B langsung semua orang harus ada di pihak aku. Ngerasa kaya kok orang-orang bisa diam aja sih pas ada masalah disini. Dia harusnya punya power buat ngomong dan ngajak orang untuk nggak melakukan hal tersebut. Tapi, lama- lama kok ngerasa capek ya?
Belum lagi, saat kita ngepost sesuatu di komentarin sama orang. Upload foto selfie dikata terlalu PD ah, ngepost berita dikata sok pinter, atau ngepost capaian diri di bidang akademik dikata pamer. Ternyata kita nggak bisa kontrol orang lain ya. Orang merasa bebas ngetik apapun tanpa sadar ketikan tersebut melukai orang lain. Ketikan yang ditulis cuma beberapa detik imbasnya bisa sampe bertahun-tahun. Bilang orang lain "jelek" padahal dia nggak pernah tau seberapa usaha apa orang tersebut dalam merawat diri. Bilang orang lain "bodoh" padahal dia nggak pernah tau seberapa usahanya dia belajar hingga subuh hanya untuk memahami satu materi walaupun hasilnya ternyata masih kurang. Bilang orang lain "norak" padahal dia nggak pernah tau seberapa usaha orang tersebut dalam mencapai apa yang dia dapatkan. Atau mungkin karena pengguna social media ini kebanyakan memang remaja yang kurang paham sama hal apa saja yang seharusnya nggak diurusin. Atau emang karena 3 jam waktu berselancar di social media ini merupakan waktu yang cukup bagi mereka untuk merasa andil dalam menentukan hidup orang lain. We never know till it happens to you.
Aku nggak begitu tau algoritma tiap social media itu kaya gimana. Tapi selama ada konten yang aku nggak suka dan itu nggak merugikan siapapun akan aku skip aja lanjut scroll yang lain. Apa yang menurutku merugikan orang lain dan aku merasa harus ikut bersuara ya sometimes nimbrung ngobrol isu tersebut. Terus mulai ngerti, kenapa beberapa orang main social media ya buat hiburan aja. Beberapa orang hidupnya udah bikin capek jadi nggak pengen ikut “nyemplung” sama masalah orang lain. Aku mulai belajar hal tersebut. Nggak semua-muanya itu harus di komentarin dan sesuai sama apa yang kamu pengen, le. Kamu nggak bisa maksa ratusan juta orang untuk satu visi misi sama kamu yang kata kamu udah paling benar sedunia. Banyak banget pertimbangan orang kenapa ambil sikap ini itu yang nggak kamu ngerti atau nggak akan kamu ngerti. Saat kamu merasa salah satu social media tersebut toxic dan kamu ngagk bisa kendalikan diri kamu coba untuk remove yourself from environments in order to recharge, to be healthy or to just flat out leave a dangerous energy. Never feel bad about doing what you must do to save yourself. Tiap orang punya cara masing-masing dalam merespon sesuatu kok. Sah-sah aja.
Mulai hidup untuk nerima bahwa orang punya kebebasan ambil sikap sesuai tangan mereka. Dan kita nggak ada hak untuk maksa mereka jadi boneka kita. Ketika kamu dikasih racun sama orang, kamu punya pilihan untuk minum atau muntahin. Atau kalo udah kelanjur minum, kamu masih ada pilihan untuk ke dokter dan sembuhin racun yang udah nempel di diri kamu.
Begitupun saat kalian baca ini, kalo pun nanti ada yang nggak setuju dengan apa yang aku katakan ya nggak apa-apa. Asik kok kalo ngobrol dari berbagai sudut pandang.
“don’t let social
media affect your mental health.”
Enjoy!
Komentar
Posting Komentar