(2) Prasangka


                                                           Prasangka

Hari ini aku bertemu dengan teman lamaku, setelah setahun lebih tidak bertemu. Aku menjemputnya, menyapa orang tuanya yang sangat ramah dari pertama kita bertemu saat aku masih berumur 13 tahun, lalu meminta izin untuk pergi ke café dekat rumah sesuai pesan papanya “yang dekat aja ya mbak biar pulangnya nggak kesorean”.
Aku memesan satu ice cream vanilla sedangkan dia coffe latte. Sebelum bertemu, kita jarang komunikasi. Aku hanya sebatas teman yang rajin melihat insta story dia. Beberapa kali aku menjumpai dia yang berbagi tentang private life nya di social media. Dan berkesimpulan “oh dia lagi ada masalah sama si ini” “harus banget ya ini di share di sosmed?” dan pikiran-pikiran lain yang muncul. Temanku bercerita dibalik postingan yang dia share. Setiap kata yang keluar, aku mencoba untuk mendengarkan dengan baik. Karena bagiku orang mau menceritakan tentang hidupnya, berarti mereka percaya dengan kita. Ada banyak sekali hal yang aku tidak dapatkan hanya dari postingannya.  Ada banyak sekali kesalah pahaman yang aku lakukan selama ini. Aku telah merasa mengerti apa yang dia rasakan, telah merasa mengerti apa yang sudah dilakukan, telah merasa mengerti apa yang sudah terjadi. Aku pikir aku tahu segalanya padahal aku tidak tahu apa-apa. Buruknya, menghakimi temanku adalah seseorang yang buruk tanpa pernah menanyakan langsung.
Beberapa kali juga sering menjumpai, ada yang rajin insta story kehidupannya tiap menit, kelihatannya “wah bahagia banget kumpul sama teman-temannya mulu” “ih romantic banget sih dikasih bunga!” “beruntung banget bisa masuk top 10 univ” but in real life mereka cerita kalau mereka tidak terlalu nyaman dengan groupnya karena merasa dimanfaatkan, cerita bahwa sebenernya mereka sering kali bertengkar hingga sempat ingin mengakhiri hubungan, lalu yang terakhir cerita bahwa banyak sekali blood and tears untuk bisa masuk univ tersebut. Sure, she deserves it.
Dari sini aku mengerti bahwa social media hanya satu persekian cerita hidup yang kita lalui. Namun, sering kali kita berkesimpulan bahwa orang ini seperti ini, orang itu seperti itu. I want to tell you something that some of the best moments are never captured by cameras and aren’t posted in any social media platforms. They are kept in private and are cherished together with the best people.
“Alangkah baiknya, mari kurangi merasa paling tahu tentang hidup orang lain dan kurangi menghakimi orang lain tanpa tahu kebenarannya.”
                                                                                                                Purbalingga, 4 Agustus 2019

Komentar

Postingan Populer