(7) Menjadi Manusia Biasa itu Biasa aja
Teruntuk,
Laely Nur
Azizah
Ini
adalah surat yang lo buat untuk diri lo sendiri. Sebagai apresiasi apa yang
telah lo lalui selama 20 tahun. Tahun ini 2020 dimana umur lo menuju 21 tahun.
Sebelumnya sempat overexcited semacam
wah apa yang akan lo lakukan ya di umur 20 tahun di tahun 2019 kemarin ya.
Setahun menjalani umur 20 tahun secara fisik memang nggak keliatan sih. Orang
lain melihat lo seperti diri lo di umur belasan tahun, nggak ada bedanya. Tapi,
bagi lo sendiri lo sungguh bangga dengan apa yang lo lakuin sampai di umur
segini. Yang paling penting, lo udah sampai di titik menerima “diri” lo. Lo yang
kalo di kampus bukan mahasiswa yang selalu bertanya tentang kondisi
perekonomian Indonesia dan imbasnya di pasar saham, bukan pula mahasiswa yang
disibukkan dengan segudang organisasi atau kepanitiaan, terakhir bukan pula
mahasiswa yang tiap hari nongkrong di kedai kopi dengan harga satu cup nya
setara 2 kali harga nasi padang.
Nanya
ke dosen kalau memang perlu atau bahkan kadang cuma nyari nilai aktivitas aja
hehe. Ikut kepanitiaan banyak ketolaknya, jadi ya ikut forum atau komunitas
non-kampus yang nggak banyak syaratnya. Suka main sih, tapi main ke kos temen
untuk ngobrol. Jalan-jalan ke mall nggak tiap hari juga. Sewajarnya. Wajar
versi lo ya. Dan, orang ngeliat lo
kebanyakan adalah orang yang biasa aja atau mungkin dibawah rata-rata.
Awal
tahun 2019 juga, baca di salah satu postingan adik kelas dimana dia anak
Kedokteran UI yang lolos sbmptn. Isi post nya adalah “Menjadi Manusia yang Biasa itu Biasa Aja”. Untuk adaptasi menjadi
orang yang keberadaannya bahkan kadang nggak ada yang nyadar padahal awalnya
jadi andalan di lingkungannya isn’t easy.
Lo mulai sadar diri, di tempat mana lo sekarang. Menghadapi lingkungan yang katanya
awal pendewasaan, orang-orangnya ibarat mutiara mahal semua, udah biasa
ditempa, udah biasa ngadepin tekanan yang nggak biasa, dan udah biasa untuk oke
oke aja sama segala resikonya. Untuk bertahan lo memilih untuk fleksibel sama
keadaan. Mau gimana pun lo berontak dengan keadaan lo sekarang, you don’t have power. Power yang lo punya ya fleksibel. Satu-satunya
pilihan adalah memilih untuk berdamai dengan diri sendiri, siapa lo sekarang.
Dari
dulu kita dituntut untuk selalu jadi yang “luar biasa” versi mereka.
Menyelesaikan kuliah dengan predikat cumlaude, masuk perusahaan besar, punya
keluarga yang lengkap, rumah bertingkat, dan lainnya. Selalu berlomba-lomba
berkompetisi sama pencapaian orang, nggak mau kalah, harus selalu bisa menang. Kalo
tujuannya untuk meningkatkan kualitas diri, gapapa. Kalo hanya untuk pemuas ego
pribadi, mau sampe kapan? Puas itu nggak ada batasnya. Semacam black hole yang terus-menerus menyedot
benda di sekitarnya dan pada akhirnya benda itu kemungkinan besarnya akan
tabrakan dan hancur.
Bahkan
ketika lo pulang sekolah pas sd, yang ditanyain bukan “Gimana, udah bisa bantu temen yang nggak bisa mengerjakan soal mtk?”
tapi “Gimana tadi, dapet 100 kan?” dan
kadang lo jawab “PR kemarin ada yang
salah ma yang bagian ini” atau “Iyalah
gampang cuma phytagoras” sambil nyopot tali sepatu dan ngeliat mama lagi
masak mie goreng campur buncis yang saat itu emang makanan favorit sih. Lo
melewati sekolah dasar lo dengan baik secara akademik dan non-akademik. Lo ikut
lomba nyanyi ya walaupun kalah, sih. Dan public speaking lo kala itu
nggak kalah sama anak yang lain. Sampai di SMA, pembagian jurusan. Tes
kepribadian ke arah mana diri lo lebih unggul. Dan lo masuk ke IPS. Jurusan
yang orang tua lo nggak suka, lo sempat mau pindah sekolah. Lo nggak mau. Tapi,
lo punya guru yang super baik dan dia bantu diskusi sama ortu. Dan, guru lo
cuma punya satu pesen yang sampe saat ini lo pegang teguh “Buktiin le kalo kamu bisa walaupun kamu IPS yang sukanya dipandang
rendah sama orang. Saya juga dulu ips, tapi sekarang saya bisa kerja. Sejajar
sama guru lain yang jurusan ipa dari universitas top 3 Indonesia.”
Balik
lagi ke umur 20 tahun, lo udah mulai ngerti apa yang lo suka dan ga suka. Apa
yang sekiranya bisa ngembangin diri sama underestimate
diri lo. Dan teman mana yang bisa cheer
you up and mana yg cuma bikin lo down.
Lo mulai kenal diri sendiri dalam keheningan. Oh ternyata lo tuh emang anaknya ceria ya bukan kaya jaman SMA yang
sukanya marah-marah ke orang dan suka skeptis ke orang. Oh ternyata lo tuh
lebih suka musik folk ya daripada edm. Oh ternyata lo tuh bla bla bla yang lo
baru tau di umur sekarang.
Lo udah di tahap menerima kalo
misal sesuatu yang lo pengen gak kesampaian. Awal-awal sempet baca nggak post
sebelum ini kaya roda itu terus berputar dan emang lo lagi di bawah. Tapi, lo
nggak boleh stuck dengan ketidakmampuan lo menyerap 100% materi yang dosen
sampaikan atau pun mengejar teman-teman yang nilainya sempurna. Atau lo stuck
sama hasil ketolaknya lo daftar organisasi. Lo udah berusaha. Hasilnya memang
belum sebagus mereka dan mungkin Tuhan belum memberikan karena kalo lo dapet
segitu mungkin lo bakal jadi orang sombong, orang yang kurang bersyukur, orang
yang angkuh, dan lain-lain.
Orang
selalu menilai sesuatu dengan angka. Kalo emang lo hidup hanya untuk mendapat
tempat dimana angka yang lo pengen, itu hak masing-masing orang. Tapi, lo sadar
pembuktian utama harusnya bukti ke diri sendiri bukan untuk orang lain. Orang
yang emang peduli sama lo, kadang nggak butuh penjelasan panjang lebar tentang
keputusan yang lo ambil tapi selalu nyoba support apa yang bakal lo lakukan
karena mereka udah paham tanpa lo jelasin. Mencoba selalu hidup untuk diri
sendiri. Lo benar-benar mulai menanamkan hal itu. Dengan anggapan bahwa lo
adalah manusia biasa. Bukan berarti lo jadi nyerah gitu aja sama keadaan.
Oke, lo boleh aja biasa dalam bidang A atau
bidang B tapi lo cari tau deh value lain dari dalam diri lo yang membuat “I have to love myself more than everything.”
Kalo lo udah tahu, coba kembangin terus. Bukan over-confident. Kalo emang lo suka nulis, do it. Kalo emang lo suka fotografi, do it. Kalo emang lo suka olahraga, do it. Sejatinya, lo hidup untuk diri lo sendiri. Kata cukup itu
adalah cukup untuk diri sendiri bukan orang lain. Karena ya for the rest of your life yang nemenin
lo sampe akhir adalah diri sendiri. Terkadang hidup sering kali untuk memenuhi
ekspetasi orang lain, tapi pastikan bahwa cukup untuk diri sendiri. Dan yang
mengetahui apakah sudah tercukupi atau belum ya cuma kita yang tahu. Tiap malem
coba deh, tulis atau setidaknya inget-inget hal apa yang harus lo banggain.
Boleh jaman dulu atau baru aja lo lakuin. Lo tuh layak dicintai at least
sama diri lo sendiri walaupun orang-orang nganggep lo tuh ya manusia biasa aja.
Intinya, doing something that makes you
improve urself more and more.
“Hidup itu bahagia atau tidaknya
memang depends on ourselves. Kapan kita bisa mengubah musibah menjadi hikmah,
kapan kita bisa mengubah suka cita menjadi penuh syukur pada Tuhan.”
Komentar
Posting Komentar